Laskar Pelangi, sebuah ulasan

Selama saya menonton film ini hanya 1 yang terpikirkan : film ini seperti novel yang di filmkan lainnya (just like harry potter ^_^),hanya dapat dimengerti jika anda sudah membaca novelnya, tapi ini dari perspektif saya saja, sebisa mungkin berusaha untuk objektif dalam menilai
lets see what inside this movie…
Dari segi cerita, saya merasakan film ini adalah film visualisasi novel seperti kebanyakan, terus terang saja saya kecewa, beberapa adegan yang diambil dari novel terlalu nanggung dalam memotong dan visualisasinya, misalkan kisah si lintang yang seharusnya pergi sekolah menempuh 40 km melewati sungai dan buaya, dalam film ini tidak terasa greget perjuangannya..buaya dan sungai yang ada begitu mengecewakan
Adegan yang paling mengecewakan adalah, ketika laskar pelangi menuju tuk bayan tula untuk mendapatkan cara agar nilai ulangannya bagus (dont try this at home kids !) seharusnya petualangan itu begitu seru dan menegangkan, tapi sayang..tidak ada keseruan sedikitpun yang saya rasakan.
Satu lagi hal yang sangat saya sayangkan adalah adegan ketika flo hilang di hutan, adegan ini begitu singkat, dan menimbulkan banyak tanda tanya bagi yang belum membaca novelnya. Masih ada adegan yang kurang terasa greget dan mengalami sedikit perubahan ceritanya seperti ketika cerdas cermat saat lintang berdebat tentang teorinya, adegan ketika laskar pelangi mengikuti karnaval, dan lainnya.
Enough for the scene, bagaimana dengan tokoh-tokohnya? kekecewaan yang ada (sekali lagi ini dari sudut pandang saya) adalah nothing special yang tampak dari pemain-pemain senior yang ada
perhatian saya justru tertuju pada akting Ikal (Zulfani), Lintang (Ferdian) dan Mahar (Veris Yamarno) yang tampil begitu natural.

Tibalah pada bagian yang membuat film laskar pelangi begitu mempesona, adalah setting pulau belitong yang ditampilkan oleh riri reza begitu..magnificent beauty !
batu-batu di pantai yang ada begitu dashyat indahnya (Subhanallah!) belitong benar-benar ditampilkan dengan apik
Dalam review ini mungkin saya terlalu banyak membandingkan dengan novelnya
tapi saya sadar film visualisasi dari novel, seperti harry potterpun tidak memuaskan bukan?tidaklah mudah untuk membuat sebuah film dari novel yang cukup tebal apalagi setiap lembar katanya begitu penting dan bermakna (begitu dashyat)
Bagi anda yang turut merasa kecewa, seorang penggemar mengatakan “Sebuah novel yang difilmkan pasti tidak akan selalu memuaskan pembacanya yang pada saat membacanya mempunyai ” theater of mind” sendiri. Jadi kalau anda kecewa sah-sah saja karena filmnya tidak sesuai dengan “theater of mind” milik anda.”, Andrea Hiratapun berkata “jika novel dan filmnya sama, buat apa ada film kenapa tidak baca novelnya saja” bagaimanapun buku dan film adalah 2 hal yang berbeda, salut kepada riri reza yang bisa menampilkan Laskar Pelangi dengan begitu unik, menarik, indah mempesona!
Bravo Laskar Pelangi ! **/(-_^)












klo ngerasa lebih seru baca novel,
ga ush ntn filmnya.
cukup baca novel lalu imajinasikan sndr.
lebih asik membangun imajinasi dr novel itu sndr.
“theater of mid” lebih tepatnya.
hmm,…suatu hr nnt lah Ji kutonton filmnya ^^
nonton LP smbil mkn Togo Bar Enk x yaa,…?? Mengobati kekecewaan,.. hihihi,..
@Destie
setuju saudari destie! (^_^)v
@Kong2
aduh2..nantilah qu kirim Togo Bar tu..but, u must see this film at cinema! (^o^)/ magnificent beauty of belitong
ehehe.. reviewnya bagus… setuju… gw juga pas nonton mikir gitu. filmnya lebih keliatan kayak cerita novel yg dipotong2.
tp emang pastinya susah banget bikin sedetail itu, durasinya itu loh.. makanya, novel sama film tuh emang gak bisa dibandingin.
coba tanya ke orang yg nonton film laskar pelangi tp ga baca novelnya, rata2 pada suka banget deh…
tp gw yg udh baca novelnya yaa filmnya ga gitu masuk XD
filmnya memang buat yang belum pernah baca novelnya kok. dan gara2 belum pernah baca novelnya maka saya bisa bilang kalo filmnya bagus. ga keliatan dipotong2…tentunya kalo pas waktu nonton kita belum pernah baca novelnya
iya juga, memang sulit mentrasfer sebagian besar aspek penting dalam sebuah novel ke film.
mungkin itu sudah usaha maksimal dari mereka…
tapi disisi lain gwa takjub! novel maupun filmnya sudah berhasil mengambil banyak perhatian dari masyarakat dan mendapatkan pujian dari sejumlah pakar sastra…
Wah..ada mas joe
bener, filmnya bagus banget dan ga kerasa ada yang kurang kalo kita belum baca bukunya, yah…itung2 bagi yang belum baca bukunya, dgn nonton filmnya bisa jadi ingin baca/beli bukunya, dongkrak penjualan buku juga kan